Updatenetizen – Tak banyak aktivitas yang terlihat di kolong Tol Kalijodo, Jakarta, pascapenggusuran. Meski sudah bersih dari bedeng, masih banyak warga yang bertahan di kolong tol tersebut.

Pantauan detikcom di kolong tol Kalijodo, Jalan Kepanduan I, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta, Kamis (29/6/2017), sekitar pukul 09.00 WIB, tak terdengar deru kendaraan lalu lalang yang melintas di sekitar lokasi. Masih terlihat puing-puing bangunan yang berserakan di kolong Tol Kalijodo.

Masih banyak warga yang terlelap di atas kasur. Jarak mereka berdekatan, tak ada sekat yang membatasi satu dengan yang lainnya.

Di atas kasur terlihat jemuran yang digantung seadanya. Di samping kiri atau kanan kasur terlihat peralatan mandi hingga dispenser lengkap dengan galon air mineral.

Kucing-kucing liar juga terlihat bersantai di dekat warga yang tengah terlelap itu. Di sisi lain warga yang sudah terbangun tampak sedang bercakap-cakap dengan sesama rekannya.

Kolong tol itu juga dilengkapi dengan satu dapur umum di salah satu sudutnya. Ada satu kompor dengan dua tungku yang digunakan secara komunal.

Salah seorang ibu baru terlihat sedang memasak untuk dimakan bersama warga lainnya. Ada satu baskom nasi dan potongan jagung yang akan dimasak untuk sayur bayam.

Beberapa warga yang ditemui mengaku berasal dari Semarang, Betawi dan Medan. Salah satu warga Sumiyati (52) mengaku sudah 11 tahun tinggal di Jakarta. Selama itu pula warga asal Semarang itu hidup berpindah dari satu kolong tol ke kolong tol lain.

“Saya tinggal di pembayaran tol di Petak Seng, di sana digusur saya pindah ke sini. dari gusuran pertama saya sudah di sini,” katanya.

Sumiyati tinggal bersama suaminya di kolong tol itu. Dia mengaku sebelum ada penggusuran dirinya bekerja sebagai buruh cuci mobil dan truk yang parkir saat kawasan itu masih ramai.

“Kalau mampu kita nggak mau tinggal di kolong, cuma kan nggak betah, nggak betah di kolong. Kalau dulu kuli nyuci di kolong, dulu ada mobil Jambi, mobil Medan, truk yang pindah ke jalan. Kita biasa jadi kuli nyuci mobil itu, kalau sekarang nggak ada apa-apa mau jadi kuli cuci di mana, nggak ada penghasilan,” keluh ibu lima anak itu.

Sumiyati mengatakan jika sedang sehat dia memulung botol-botol plastik. Lebaran kali ini pun dia sedih karena tak bisa mudik ke kampung halamanya di Semarang.

“Kalau kaki nggak sakit ngetong, (yaitu) mungutin botol Aqua. Saya nggak mudik karena jauh ongkosnya saja ratusan (ribu). Semarang emangnya deket kan jauh naik mobil berapa duit,” kata dia.

 

 

Advertisements